Tari Rejang Lilit Dalam Upacara Piodalan Dadia Sangging Prabangkara Desa Lemukih Kecamatan Sawan

Main Article Content

I Ketut Susila

Abstract

Aspek kebudayaan menanungi berbagai hal mengenai kemanusian, baik aspek social, aspek mata pecaharia, religi dan berbagai hal lain sesuai dengan unsur kebudayaan. Seiring dengan hal tersebut pemerintah juga mengupayakan pemajuan 10 unsur kebudayaan yang salah satunya adalah aspek religi. Menjadi kewajiban semua pihak untuk senantiasa memelihara, menjaga, dan melestarikan kebudayaan-kebudayaan local setempat seperti pelaksanaan pementasan tari Rejang Lilit dalam Piodalan  di Dadia Sangging Prabangkara Desa Lemukih Kecamatan Sawan. Kajian aspek Pendidikan perlu dilakukan guna mengetahui nilai Pendidikan apa saja yang terkandung di dalamnya sehingga dapat dijadikan suditauladan bagi generasi penerus. Pendekatan yang dipergunakan adalah pendekatan kualitatif dengan sumber data primer dan skunder yang kemudian di deskrifsikan secara deskrifisi kualitatif. Tari Rejang Lilit yang dilaksanakan pada setiap hari raya Tumpek Wayang di Dadia Sangging Prabangkara yang bertujuan untuk menghibur para Sesuhunan atau Ida Bhatara-Bhatari yang turun menyaksikan saat pelaksanaan Piodalan di Dadia Sangging Prabangkara. Nilai pendidikan  agama Hindu yang terkandung di dalam tari Rejang Lilit yaitu nilai pendidikan Tri Hita Karana yang terdiri dari parhyangan meliputi wujud bhakti umat manusia dengan melakukan persembahyangan berupa tari Rejang Lilit yang dilengkapi oleh sarana upakara yang kaya akan makna symbol ketuhanan, yang keduadari segi pawongan yang meliputi rasa solidaritas, tanggung jawab dan kerja sama  dari  pengempon  Dadia  Sangging  Prabangkara,  yang  ketiga   dari  segi palemahan yang meliputi melaksanakan yadnya untuk menjaga kelestarian alam semesta beserta dengan isinya. Sedangkan   nilai pendidikan Tri Kaya Parisudha terdiri dari pengendalian pikiran, perbuatan dan perkataan yang suci dan tulus iklas.

Article Details

How to Cite
I Ketut Susila. (2020). Tari Rejang Lilit Dalam Upacara Piodalan Dadia Sangging Prabangkara Desa Lemukih Kecamatan Sawan. WIDYALAYA: Jurnal Ilmu Pendidikan, 1(2), 119-128. Retrieved from http://jurnal.ekadanta.org/index.php/Widyalaya/article/view/80
Section
Articles

References

Darmawan, I. P. A. (2020). ANIMISME DALAM PEMUJAAN BARONG BULU GAGAK DI BALI. Genta Hredaya, 4(1).
Darmawan, I. P. A. (2020). Pemujaan Barong di Bali dalam Pandangan Animisme Edward Burnett Tylor. Sanjiwani: Jurnal Filsafat, 10(2), 147-153.
Duarsa, I. G. A. (2017) Pementasan Tari Ratu Baksan Di Pura Tampuryang Desa Pakraman Songan Kecamatan Kintamani Kabupaten Bangli (Perspektif PendidikanAgama Hindu)
Dibia, I. W. (2000). Tari Wali Sanghyang, Rejang, Baris, Denpasar, Propinsi Daerah Tingkat I Bali Rota, Ketut, Drs.1977/1978.Pewayangan Bali SebuahPengantar, Denpasar, Proyek Peningkatan/Penembangan ASTI Denpasar.
Dewai, I.A.M.S. (2016). Nilai-nilai pendidikan Agama Hindu pada Proses pementasan Tari Rejang Dedari dalam Upacara Dewa Yadnya di Pura Pemaksana Banjar Bukit Ngandang Kelurahan Pangutan Timur, Kecamatan Mataram.
Gunawijaya, I. W. T. (2020). PENGUSADHA DALAM FILSAFAT YOGA DARSANA (Studi Kasus di Desa Payangan, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan). Widya Katambung, 11(1), 71-79.
Yudabhakti, I.M. (2007). Filsafat Seni Sakral dalam Kebudayaan Bali. Surabaya :Paramita
Tim Penyusun. (1994). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. Mulyana, Rohmat, (2011). Mengartikulasi Pendidikan Nilai. Bandung :Alfabeta.
Suwarno,W. (2009). Dasar-DasarIlmuPendidikan. Jogjakarta:Ar-Ruzz Media.
Wiana, I. K. (1992). Pelinggih Merajan. Denpasar: Upadasastra.
Suatama, I.B. (2007). Pendidikan Agama Hindu di Perguruan Tinggi. Surabaya: Paramita
Suastama, I.B, dkk. (2007). Pendidikan Agama Hindu Di PerguruanTinggi. Surabaya Paramita
Suadnyana, I. B. P. E. (2020). DESA PAKRAMAN SEBAGAI LEMBAGA ADAT DAN LEMBAGA AGAMA BAGI KEHIDUPAN MASYARAKAT HINDU DI BALI. Dharma Duta, 18(1), 21-32.
Suadnyana, I. B. P. E., & Gunawijaya, I. W. T. (2020). Akibat Hukum Terhadap Hak Masyarakat Adat dalam Peralihan Agama di Desa Adat Dalung. Pariksa, 3(1).
Suantara, I. W. A. (2016). Artikel Katya Seni Refresentasi Nilai-Nilai Pendidikan Tari Rejang Dehe Dalam Upacara Usaba Kasa di Desa Asak Karangasem.Documentation. ISI: Denpasar.
Yuniastuti, N. W., Trisdyani, N. L. P., & Suadnyana, I. B. P. E. (2020). PERTUNJUKAN TOPENG BONDRES SEBAGAI MEDIA PENDIDIKAN AGAMA HINDU. Maha Widya Duta, 4(1), 23-34.
Suwari, I.A.M.Y. (2014). Tari Rejang Lilit Dalam Upacara Dewa Yadnya di Pura Kayangan Tiga Desa Adar Mudeh, Tabanan. Documentation. ISI Denpasar.
Yuliasih, N. K. (2018). Nilai Pendidikan Dalam Tari Rejang Ilut Di Desa Buahan Kecamatan Payangan Kabupaten Gianyar. Working Paper. ISI Denpasar, Denpasar,Bali.
Rianta, I. M. (2019). Estetika Gerak Tari Rejang Sakral Lanang Di Desa Mayong, Seririt, Buleleng, Bali.
Untara, I. M. G. S., & Rahayu, N. W. S. (2020). Bissu: Ancient Bugis Priest (Perspective On The Influence Of Hindu Civilization In Bugis Land). Vidyottama Sanatana: International Journal of Hindu Science and Religious Studies, 4(2), 243-249.
Untara, I. M. G. S. (2020). KOSMOLOGI HINDU DALAM TEKS PURWA BHUMI KAMULAN. Widya Katambung, 11(1), 34-43.