Religiusitas Sesolahan Sanghyang Grodog pada Upacara Pengaci Sakral di Lembongan Indonesia

Main Article Content

Ni Wayan Juli Artiningsih

Abstract

Sanghyang Grodog merupakan salah satu tradisi yang masih kuat saat ini di Desa Pakraman Lembongan, Kecamatan Nusa Penida. Sanghyang Grodog adalah "ritual pengaci desa" yang dilakukan setiap pinanggl tilem sasih karo, dengan fungsi menjadi "pengawas desa". Nyomia Desa merupakan upacara yang dilakukan untuk menetralisir unsur negatif sehingga menjadi positif. Sanghyang Grodog tidak biasa seperti tarian Sanghyang lainnya pada umumnya di Bali. Perbedaannya adalah bahwa tarian Sanghyang Grodog tidak hanya sakral, tarian ini tidak berhenti hanya sebagai tarian, tetapi merupakan perpaduan sempurna dari gending ritmik (nyanyian audio, suara / suara), visual (bentuk, bentuk, visual), dan agem (gerakan, kinetik). Jumlahnya juga tidak hanya satu atau dua tetapi pada saat yang sama ada 23 jenis Sanghyang yang kemudian ditawarkan sebagai aci suci di Desa Pakraman Lembongan selama 11 hari berturut-turut. Masalah dalam tulisan ini meliputi; 1) apa bentuk upacara Aci Sanghyang Grodog di Lembongan, 2) Aspek keagamaan upacara Aci Sanghyang Grodog di Lembongan, 3) apa implikasi nilai-nilai agama di sekolah grodog sanghyang di Lembongan. Tulisan ini bertujuan untuk menentukan religiositas pada upacara Aci Sanghyang Grodog di Lembongan. Analisis data dilakukan menggunakan metode deskriptif kualitatif.

Article Details

How to Cite
Ni Wayan Juli Artiningsih. (2020). Religiusitas Sesolahan Sanghyang Grodog pada Upacara Pengaci Sakral di Lembongan. ŚRUTI: Jurnal Agama Hindu, 1(1), 26-35. Retrieved from https://jurnal.ekadanta.org/index.php/sruti/article/view/59
Section
Articles

References

Aryasa, I Wayan Madra. (1996). Seni Sakral. Jakarta: Direktorat Jendral Bimbingan Masyarakat Hindu dan Budha.
Bandem, I Made. (1996). Tari Bali. Yogyakarta: Kanisius.
Bungin, Burhan. (2001). Metodologi Penelitian Sosial, Formatformat Kuantitatif dan Kualitatif. Surabaya: Airlangga University Press.
Darmawan, I. P. A., & Krishna, I. B. W. (2020). Konsep Ketuhanan dalam Suara Gamelan Menurut Lontar Aji Ghurnnita. Genta Hredaya, 3(1).
Dewi, Ni Made Santika. (2013). Tari Sanghyang Dedari di Desa Pakraman Cemenggaon,
Dibia, I Wayan. (1999). Seni Diantara Tradisi dan Moderenisasi. Denpasar: Institut Seni Indonesia.
Djelantik, A.A.M. (1992). Pengantar Dasar Ilmu Estetika Jilid II Falsafah Keindahan dan Kesenian. Denpasar: STSI Denpasar.
Gunawijaya, I. W. T., & Putra, A. A. (2020). Makna Filosofis Upacara Metatah dalam Lontar Eka Prathama. Vidya Darśan: Jurnal Mahasiswa Filsafat Hindu, 1(1).
Gunawijaya, I. W. T., & Srilaksmi, N. K. T. (2020). Hambatan Pembelajaran Agama Hindu Terhadap Siswa Tuna Netra di Panti Mahatmia. Cetta: Jurnal Ilmu Pendidikan, 3(3), 510-520.
Gunawijaya, I. W. T. (2019). Kelepasan dalam Pandangan Siwa Tattwa Purana. Jñānasiddhânta: Jurnal Teologi Hindu, 1(1).
Jaman, I Gede, (2006). Tri Hita Karana: Dalam Konsep Hindu, Denpasar: PustakaBali Post.
Sukawati, Gianyar (Kajian Pendidikan Agama Hindu). Skripsi (tidak diterbitkan). Jurusan Pendidikan Agama Hindu, UNHI.
Suadnyana, I. B. P. E. (2020). Ajaran Agama Hindu Dalam Geguritan Kunjarakarna. Genta Hredaya, 3(1).
Untara, I. M. G. S. (2019). Kosmologi Hindu dalam Bhagavadgītā. Jñānasiddhânta: Jurnal Teologi Hindu, 1(1).
Untara, I. M. G. S., & Gunawijaya, I. W. T. (2020). Estetika dan Religi Penggunaan Rerajahan pada Masyarakat Bali. Jñānasiddhânta: Jurnal Teologi Hindu, 2(1), 41-50.
Yudabakti, I Made dan Watra I Wayan.(2007). Filsafat Seni Sakral Dalam Kebudayaan Bali. Surabaya Paramita.